Minggu, 20 Mei 2012

Kepadatan Populasi Cacing Tanah


PRAKTIKUM 5
A.    Judul   : Kepadatan Populasi Cacing Tanah
B.     Tujuan :
1.      Mampu Menjelaskan Dinamika Populasi Hewan
2.      Mampu Menjelaskan Laju Pertumbuhan dan Struktur Populasi Hewan
3.      Mampu Menguraikan Penyebaran dan Kemelimpahan Populasi Hewan
4.      Mampu Menguraikan Tentang Kekayaan Spesies (Rhicenes)
5.      Mampu Menguraikan Interaksi Populasi Hewan

C.     Dasar Teori
Fauna tanah sebagai salah satu komponen organisme tanah ikut berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik. Bersama organisme tanah lainnya fauna tanah menguraikan bahan organic menjadi C organic tanah dan melepaskan hara-hara dalam ikatan komplek menjadi hara tanah tersedia bagi tanaman. Dengan demikian tingkat populasi dan sebaran fauna tanah secara langsung berpengaruh terhadap tingkat kesuburan dan produktivitas tanah. .
Dalam hubungan timbal balik dengan mikroba, peranan utama fauna tanah adalah mengoyak, memasukkan, dan melakukan pertukaran secara kimia hasil proses dekomposisi serasah tanaman. Melalui proses mineralisasi materi yang telah mati akan menghasilkan garam-garam mineral yang akan digunakan oleh tumbuh-tumbuhan (Thomas & Mitchell 1951).
Secara umum fauna tanah dapat dipandang sebagai pengatur terjadinya proses biogeokimia dalam tanah. Dengan perkataan lain fauna tanah berperan dalam menentukan kesuburan tanah bahkan beberapa jenis fauna tanah dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesehatan tanah di suatu daerah pertanian (Adianto 1983). Salah satu hewan fauna tanah yang berperan dalam proses dekomposisi yaitu cacing.
Cacing tanah sangat banyak jenisnya. Di Indonesia, cacing tanah sebagian besar tergolong dalam famili Megascopecidae, terutama dari genus pheretima. Tetapi dari beberapa hasil penelitian  terungkap pula bahwa cacing tanah yang luas penyebarannya di Indonesia adalah dari jenis Pontoscolex corethrurus. Cacing ini tersebar luas di tanah pertanian, belukar, dan lapangan yang ditumbuhi rumput-rumputan (Nurdin, 1982).
John (2007) menjelaskan bahwa keberadaan cacing tanah pada areal perkebunan sangat berperan dalam peningkatan produktivitas tanah. Hanafiah (2005) menjelaskan bahwa secara umum peranan cacing tanah merupakan sebagai bioamelioran (jasad hayati penyubur dan penyehat) tanah terutama melalui kemampuannya dalam memperbaiki sifat-sifat tanah, seperti ketersediaan hara, dekomposisi bahan organik, pelapukan mineral dan lain-lain, sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanah.
Suin (1989) menjelaskan bahwa kepadatan populasi cacing tanah sangat bergantung pada faktor fisik-kimia tanah dan tersedianya makanan yang cukup bagi cacing tanah. Pada tanah yang berbeda faktor fisik-kimia tanahnya tentu kepadatan cacing tanahnya juga berbeda. Demikian juga jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada suatu daerah sangat menentukan jenis cacing tanah dan kepadatan populasinya di daerah tersebut.
Distribusi bahan organik dalam tanah berpengaruh terhadap cacing tanah, karena terkait dengan sumber nutrisinya sehingga pada tanah miskin bahan organik hanya sedikit jumlah cacing tanah yang dijumpai. Namun apabila cacing tanah sedikit, sedangkan bahan organik segar banyak, pelapukannya akan terhambat (Hanafiah,2005).
Bahan organik tanah sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi cacing tanah karena bahan organik yang terdapat di tanah sangat diperlukan untuk melanjutkan kehidupannya. Sumber utama materi organik adalah serasah tumbuhan dan tubuh hewan yang telah mati. Pada umumnya bahan organik ini banyak jumlahnya pada tanah yang kelembabannya tinggi dibandingkan dengan yang rendah. Selain itu, menurut Russel (1988) bahan organik juga mempengaruhi sifat fisik-kimia tanah dan bahan organik itu merupakan sumber pakan untuk menghasilkan energi dan senyawa pembentukan tubuh cacing.

D.    Alat dan Bahan
Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain:
1.      Pacul
2.      Kantong plastik
3.      pH meter
4.      Formalin 8%

E.     Cara Kerja
1.      Menggali tanah dengan pacul sampai kedalaman 30 cm.
2.      Memasukkan tanah ke dalam kantong plastik.
3.      Meletakkan tanah pada lembaran plastik dan seterusnya mengoleksi cacing tanah yang ada dengan metoda sortir tangan.
4.      Membedakan bentuk luar cacing tanah, menghitung dan mencuci dengan air sampai bersih dan menimbang.
5.                 Mengawetkan cacing dengan formalin 8%.

F.      Hasil dan Pembahasan
1.      Hasil
Tabel hasil pengamatan di lokasi sekitar damhil
Waktu/tanggal
Banyak cacing
Parameter fisik
Ket.
pH
Suhu
15.30
04-06-2011
2 ekor
6
290C
Berat kedua cacing tanah tersebut yaitu 0,85 gr.

2.      Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, hanya diperoleh dua ekor cacing (dalam stasiun yang luasnya 30 x 30 m) dengan berat keduanya 0,85 gr. Cacing tanah hanya di temukan pada titik ke-4, dimana pada titik yang lain tidak ditemukan adanya cacing tanah. Hal ini mungkin di pengaruhi oleh tekstur tanah yang berupa tanah pasir, sehingga kelembaban tanahnya pun sangat kurang. Kelembaban sangat berpengaruh terhadap aktivitas cacing tanah karena sebagian tubuhnya terdiri atas air yang berkisar 75-90% dari berat tubuhnya. Itulah sebabnya usaha pencegahan kehilangan air merupakan masalah bagi cacing tanah. Meskipun demikian cacing tanah mampu hidup dalam kondisi yang kurang menguntungkan dengan cara berpindah ke tempat yang lebih sesuai atau pun diam.
Menurut Rukmana (1999) kelembaban yang ideal untuk cacing tanah adalah antara 15-50%, namun kelembaban optimumnya adalah antara 42-60%. Kelembaban tanah yang terlalu tinggi atau terlalu basah dapat menyebabkan cacing tanah berwarna pucat dan kemudian mati. Sebaliknya jika kelembaban tanah terlalu kering, cacing tanah akan segera masuk ke dalam tanah dan berhenti makan serta akhirnya mati.
Kehidupan cacing tanah juga ikut ditentukan oleh suhu tanah. Suhu yang ekstrim tinggi atau rendah dapat mematikan cacing tanah. Suhu pada umumnya mempengaruhi pertumbuhan, reproduksi dan metabolisme. Tiap spesies cacing tanah memiliki kisaran suhu optimum tertentu, dan kondisi yang sesuai untuk aktivitas cacing tanah di permukaan tanah pada waktu malam hari ketika suhu tidak melebihi 10,50C (Wallwork, 1970).
Diperoleh juga pH tanah di lokasi sekitar damhil yaitu 6, yang berarti tanah bersifat asam. Itu juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya populasi cacing tanah di lokasi tersebut. Dimana tanah yang pH-nya asam dapat mengganggu pertumbuhan dan daya berkembang biak cacing tanah, karena ketersediaan bahan organik dan unsur hara (pakan) cacing tanah relatif terbatas. Di samping itu, tanah dengan pH asam kurang mendukung percepatan proses pembusukan (fermentasi) bahan-bahan organik.
Cacing tanah sangat sensitif terhadap keasaman tanah, karena itu pH merupakan faktor pembatas dalam menentukan jumlah spesies yang dapat hidup pada tanah tertentu. Cacing tanah menyukai pH tanah sekitar 5,8-7,2 karena dengan kondisi ini bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan. Penyebaran vertikal maupun horizontal cacing tanah sangat dipengaruhi oleh pH tanah (Edwars & Lofty, 1977).
Cacing tanah berkembang baik pada pH netral. pH ideal untuk cacing tanah adalah 6–7,2 (Rukmana, 1999). Cacing tanah menyukai bahan organik kualitas tinggi (C/N rendah). Kualitas bahan organik yang paling menentukan populasi cacing tanah adalah asam humat dan fulvat (Priyadarshini, 1999). Semakin tinggi kandungan asam humat dan fulvat, semakin kecil populasi cacing tanah, bahkan pada kondisi asam humat dan fulvat cukup tinggi cacing tanah bisa tidak dijumpai sama sekali.
Biomasa cacing tanah telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk mendeteksi perubahan pH, keberadaan horison organik, kelembaban tanah dan kualitas humus.
Bahan organik tanah sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi cacing tanah karena bahan organik yang terdapat di tanah sangat diperlukan untuk melanjutkan kehidupannya. Sumber utama materi organik adalah serasah tumbuhan dan tubuh hewan yang telah mati.
Cacing tanah termasuk makrofauna tanah (ukuran > 2 mm). Makrofauna tanah sangat besar peranannya dalam proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah (Anderson, 1994). Penentuan bioindikator kualitas tanah diperlukan untuk mengetahui perubahan dalam sistem tanah akibat pengelolaan yang berbeda. Perbedaan penggunaan lahan akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah (Lavelle, 1994). Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman secara monokultur pada sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan terjadinya penurunan secara nyata biodiversitas makrofauna tanah (Crossley et al., 1992; Paoletti et al., 1992; Pankhurst, 1994).


G.    Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kelangsungan hidup cacing tanah dipengaruhi oleh kelembaban tanah, dimana kelembaban tanah yang terlalu tinggi atau terlalu basah dapat menyebabkan cacing tanah berwarna pucat dan kemudian mati. Sebaliknya jika kelembaban tanah terlalu kering, cacing tanah akan segera masuk ke dalam tanah dan berhenti makan serta akhirnya mati. Kehidupan cacing tanah juga ikut ditentukan oleh suhu tanah. Suhu yang ekstrim tinggi atau rendah dapat mematikan cacing tanah. Selain itu pH dan bahan organik sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi cacing tanah.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar.EK.2004.Uji Efektifitas Metoda Sampling.Online.Tersedia di http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/prosiding2008pdf/eakosman_fauna.pdf.diakses tanggal 6 Juni 2011
Team teaching. 2011.Penuntun Praktikum Ekologi. Gorontalo. UNG
Morario.2009.Komposisi dan Distribusi Cacing Tanah.Online.Tersedia di http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13817/1/10E00403.pdf.diakses tanggal 6 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar