PRAKTIKUM
5
A. Judul : Kepadatan Populasi Cacing Tanah
B. Tujuan :
1. Mampu
Menjelaskan Dinamika Populasi Hewan
2. Mampu
Menjelaskan Laju Pertumbuhan dan Struktur Populasi Hewan
3. Mampu
Menguraikan Penyebaran dan Kemelimpahan Populasi Hewan
4. Mampu
Menguraikan Tentang Kekayaan Spesies (Rhicenes)
5. Mampu
Menguraikan Interaksi Populasi Hewan
C. Dasar
Teori
Fauna
tanah sebagai salah satu komponen organisme tanah ikut berperan penting dalam
proses dekomposisi bahan organik. Bersama organisme tanah lainnya fauna tanah
menguraikan bahan organic menjadi C organic tanah dan melepaskan hara-hara
dalam ikatan komplek menjadi hara tanah tersedia bagi tanaman. Dengan demikian
tingkat populasi dan sebaran fauna tanah secara langsung berpengaruh terhadap
tingkat kesuburan dan produktivitas tanah. .
Dalam
hubungan timbal balik dengan mikroba, peranan utama fauna tanah adalah
mengoyak, memasukkan, dan melakukan pertukaran secara kimia hasil proses
dekomposisi serasah tanaman. Melalui proses mineralisasi materi yang telah mati
akan menghasilkan garam-garam mineral yang akan digunakan oleh tumbuh-tumbuhan
(Thomas & Mitchell 1951).
Secara
umum fauna tanah dapat dipandang
sebagai pengatur terjadinya proses biogeokimia dalam tanah. Dengan perkataan
lain fauna tanah berperan dalam menentukan kesuburan tanah bahkan beberapa
jenis fauna tanah dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesehatan tanah di
suatu daerah pertanian (Adianto 1983). Salah satu hewan fauna tanah yang
berperan dalam proses dekomposisi yaitu cacing.
Cacing
tanah sangat banyak jenisnya. Di Indonesia, cacing tanah sebagian besar
tergolong dalam famili Megascopecidae, terutama dari genus pheretima. Tetapi dari beberapa hasil penelitian terungkap pula bahwa cacing tanah yang luas
penyebarannya di Indonesia adalah dari jenis Pontoscolex corethrurus. Cacing ini tersebar luas di tanah
pertanian, belukar, dan lapangan yang ditumbuhi rumput-rumputan (Nurdin, 1982).
John
(2007) menjelaskan bahwa keberadaan cacing tanah pada areal perkebunan sangat
berperan dalam peningkatan produktivitas tanah. Hanafiah (2005) menjelaskan
bahwa secara umum peranan cacing tanah merupakan sebagai bioamelioran (jasad
hayati penyubur dan penyehat) tanah terutama melalui kemampuannya dalam
memperbaiki sifat-sifat tanah, seperti ketersediaan hara, dekomposisi bahan
organik, pelapukan mineral dan lain-lain, sehingga mampu meningkatkan
produktivitas tanah.
Suin
(1989) menjelaskan bahwa kepadatan populasi cacing tanah sangat bergantung pada
faktor fisik-kimia tanah dan tersedianya makanan yang cukup bagi cacing tanah.
Pada tanah yang berbeda faktor fisik-kimia tanahnya tentu kepadatan cacing
tanahnya juga berbeda. Demikian juga jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada
suatu daerah sangat menentukan jenis cacing tanah dan kepadatan populasinya di
daerah tersebut.
Distribusi
bahan organik dalam tanah berpengaruh terhadap cacing tanah, karena terkait
dengan sumber nutrisinya sehingga pada tanah miskin bahan organik hanya sedikit
jumlah cacing tanah yang dijumpai. Namun apabila cacing tanah sedikit,
sedangkan bahan organik segar banyak, pelapukannya akan terhambat
(Hanafiah,2005).
Bahan
organik tanah sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi cacing
tanah karena bahan organik yang terdapat di tanah sangat diperlukan untuk
melanjutkan kehidupannya. Sumber utama materi organik adalah serasah tumbuhan
dan tubuh hewan yang telah mati. Pada umumnya bahan organik ini banyak
jumlahnya pada tanah yang kelembabannya tinggi dibandingkan dengan yang rendah.
Selain itu, menurut Russel (1988) bahan organik juga mempengaruhi sifat
fisik-kimia tanah dan bahan organik itu merupakan sumber pakan untuk
menghasilkan energi dan senyawa pembentukan tubuh cacing.
D.
Alat dan Bahan
Alat-alat dan bahan
yang digunakan dalam praktikum ini antara lain:
1. Pacul
2. Kantong
plastik
3. pH
meter
4. Formalin
8%
E. Cara
Kerja
1. Menggali
tanah dengan pacul sampai kedalaman 30 cm.
2. Memasukkan
tanah ke dalam kantong plastik.
3. Meletakkan
tanah pada lembaran plastik dan seterusnya mengoleksi cacing tanah yang ada
dengan metoda sortir tangan.
4. Membedakan
bentuk luar cacing tanah, menghitung dan mencuci dengan air sampai bersih dan
menimbang.
5.
Mengawetkan cacing
dengan formalin 8%.
F. Hasil
dan Pembahasan
1. Hasil
Tabel
hasil pengamatan di lokasi sekitar damhil
|
Waktu/tanggal
|
Banyak
cacing
|
Parameter
fisik
|
Ket.
|
|
|
pH
|
Suhu
|
|||
|
15.30
04-06-2011
|
2
ekor
|
6
|
290C
|
Berat kedua cacing tanah
tersebut yaitu 0,85 gr.
|
2. Pembahasan
Berdasarkan
hasil pengamatan yang telah dilakukan, hanya diperoleh dua ekor cacing (dalam
stasiun yang luasnya 30 x 30 m) dengan berat keduanya 0,85 gr. Cacing tanah
hanya di temukan pada titik ke-4, dimana pada titik yang lain tidak ditemukan
adanya cacing tanah. Hal ini mungkin di pengaruhi oleh tekstur tanah yang
berupa tanah pasir, sehingga kelembaban tanahnya pun sangat kurang. Kelembaban
sangat berpengaruh terhadap aktivitas cacing tanah karena sebagian tubuhnya
terdiri atas air yang berkisar 75-90% dari berat tubuhnya. Itulah sebabnya
usaha pencegahan kehilangan air merupakan masalah bagi cacing tanah. Meskipun
demikian cacing tanah mampu hidup dalam kondisi yang kurang menguntungkan
dengan cara berpindah ke tempat yang lebih sesuai atau pun diam.
Menurut
Rukmana (1999) kelembaban yang ideal untuk cacing tanah adalah antara 15-50%,
namun kelembaban optimumnya adalah antara 42-60%. Kelembaban tanah yang terlalu
tinggi atau terlalu basah dapat menyebabkan cacing tanah berwarna pucat dan
kemudian mati. Sebaliknya jika kelembaban tanah terlalu kering, cacing tanah
akan segera masuk ke dalam tanah dan berhenti makan serta akhirnya mati.
Kehidupan
cacing tanah juga ikut ditentukan oleh suhu tanah. Suhu yang ekstrim tinggi
atau rendah dapat mematikan cacing tanah. Suhu pada umumnya mempengaruhi
pertumbuhan, reproduksi dan metabolisme. Tiap spesies cacing tanah memiliki
kisaran suhu optimum tertentu, dan kondisi yang sesuai untuk aktivitas cacing
tanah di permukaan tanah pada waktu malam hari ketika suhu tidak melebihi 10,50C
(Wallwork, 1970).
Diperoleh
juga pH tanah di lokasi sekitar damhil yaitu 6, yang berarti tanah bersifat
asam. Itu juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya populasi
cacing tanah di lokasi tersebut. Dimana tanah yang pH-nya asam dapat mengganggu
pertumbuhan dan daya berkembang biak cacing tanah, karena ketersediaan bahan
organik dan unsur hara (pakan) cacing tanah relatif terbatas. Di samping itu,
tanah dengan pH asam kurang mendukung percepatan proses pembusukan (fermentasi)
bahan-bahan organik.
Cacing
tanah sangat sensitif terhadap keasaman tanah, karena itu pH merupakan faktor
pembatas dalam menentukan jumlah spesies yang dapat hidup pada tanah tertentu.
Cacing tanah menyukai pH tanah sekitar 5,8-7,2 karena dengan kondisi ini
bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan
pembusukan. Penyebaran vertikal maupun horizontal cacing tanah sangat dipengaruhi
oleh pH tanah (Edwars & Lofty, 1977).
Cacing
tanah berkembang baik pada pH netral. pH ideal untuk cacing tanah adalah 6–7,2
(Rukmana, 1999). Cacing tanah menyukai bahan organik kualitas tinggi (C/N
rendah). Kualitas bahan organik yang paling menentukan populasi cacing tanah
adalah asam humat dan fulvat (Priyadarshini, 1999). Semakin tinggi kandungan
asam humat dan fulvat, semakin kecil populasi cacing tanah, bahkan pada kondisi
asam humat dan fulvat cukup tinggi cacing tanah bisa tidak dijumpai sama sekali.
Biomasa
cacing tanah telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk mendeteksi
perubahan pH, keberadaan horison organik, kelembaban tanah dan kualitas humus.
Bahan
organik tanah sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi cacing
tanah karena bahan organik yang terdapat di tanah sangat diperlukan untuk
melanjutkan kehidupannya. Sumber utama materi organik adalah serasah tumbuhan
dan tubuh hewan yang telah mati.
Cacing
tanah termasuk makrofauna tanah (ukuran > 2 mm). Makrofauna tanah sangat
besar peranannya dalam proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur
hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah (Anderson,
1994). Penentuan bioindikator kualitas tanah diperlukan untuk mengetahui
perubahan dalam sistem tanah akibat pengelolaan yang berbeda. Perbedaan
penggunaan lahan akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah
(Lavelle, 1994). Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman
secara monokultur pada sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan
terjadinya penurunan secara nyata biodiversitas makrofauna tanah (Crossley et
al., 1992; Paoletti et al., 1992; Pankhurst, 1994).
G. Kesimpulan
Dari
hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kelangsungan hidup
cacing tanah dipengaruhi oleh kelembaban tanah, dimana kelembaban tanah yang
terlalu tinggi atau terlalu basah dapat menyebabkan cacing tanah berwarna pucat
dan kemudian mati. Sebaliknya jika kelembaban tanah terlalu kering, cacing
tanah akan segera masuk ke dalam tanah dan berhenti makan serta akhirnya mati.
Kehidupan cacing tanah juga ikut ditentukan oleh suhu tanah. Suhu yang ekstrim
tinggi atau rendah dapat mematikan cacing tanah. Selain itu pH dan bahan
organik sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi cacing tanah.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar.EK.2004.Uji
Efektifitas Metoda Sampling.Online.Tersedia di http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/prosiding2008pdf/eakosman_fauna.pdf.diakses
tanggal 6 Juni 2011
Team teaching.
2011.Penuntun Praktikum Ekologi. Gorontalo. UNG
Morario.2009.Komposisi
dan Distribusi Cacing Tanah.Online.Tersedia di http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13817/1/10E00403.pdf.diakses
tanggal 6 Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar