Minggu, 20 Mei 2012

Praktikum Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia Air


PRAKTIKUM 1
A.    JUDUL:
Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia Air

B.     TUJUAN:
Menentukan status ekologis dari suatu habitat perairan dengan menggunakan pendekatan fisika-kimia perairan dan biologis.

C.     DASAR TEORI
Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumberdaya air harus dilindungi agar dapat tetap dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup lain. Air sebagai media bagi kehidupan organisme air, bersama dengan substansi lain (biotik dan abiotik) akan membentuk suatu ekosistem perairan.
Suatu badan perairan dapat di bagi menjadi dua zona utama yaitu zona pelagic atau limnetik dan zona bentik yang terdiri dari zona litoral dan zona profundal.
Pengukuran faktor-faktor abiotik perairan dapat dilakukan langsung maupun dengan pengambilan cuplikan air. Untuk memperoleh hasil pengukuran yang akurat (khususnya bagi O2 terlarut) cuplikan air diambil harus di jaga agar tidak teragitasi atau mangandung gelembung udara.
Cara mengambil cuplikan air dari bagian permukaan perairan, yang paling sederhana adalah menggunakan botol gelas yang berpenutup menyudut. Miringkan dengan perlahan dan upayakan agar tidak ada gelembung – gelembung udara yang masuk. Pemantauan secara periodik kualitas air pada suatu habitat perairan perlu dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana pencemaran telah terjadi, serta untuk perencanaan langkah pencegahan selanjutnya.
Untuk pengukuran kualitas air perlu diamati parameter fisika dan kimia air. Parameter fisika meliputi suhu, kedalaman dan kecerahan. Sedangkan parameter kimia meliputi pH, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, total alkalinitas, kesadahan, dan bahan organik. Pengukuran parameter kimia air dapat dilakukan di lapangan dengan metode titrasi, sedangkan untuk parameter bahan organik dianalisis di laboratorium dengan metode pemanasan dan titrasi.
Suhu berperan sebagai pengatur proses metabolisme dan fungsi fisiologis organisme. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi badan air. Suhu juga sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan.

D.    ALAT DAN BAHAN
Alat
1.      Termometer Raksa
2.      pH Meter
3.      Keping Secchi
4.      Do Meter
5.      Pipet Tetes
6.      Elenmeyer
7.      Botol Smpel
Bahan
1.      Larutan NaOH 1/44n
2.      Akuades
3.      Indikator Fenoftalein 0,5%
4.      Alkohol 95%

E.     CARA KERJA
1.      Pengukuran Suhu
a.       Mengukur suhu dengan menggunakan thermometer biasa (alkohol, air raksa) secara langsung pada permukaan perairan, atau secara tidak langsung (dari kedalaman tertentu).

2.      Pengukuran Derajat Keasaman (pH) Air
a.       Mengukur pH dengan menggunakan kertas indikator universal dengan loncatan skala kecil (0,2 atau 0,5)

3.      Pengukuran Derajat Kecerahan Air
a.       Mengukur derajat kecerahan air dengan keeping secchi
b.      Memegang ujung talinya, menurunkan keeping secchi kedalam air secara perlahan-lahan
c.       Membaca ukuran kedalaman panjang tali saat warna putih tidak dapat dibedakan lagi dari warna hitam
d.      Menarik keeping secchi naik perlahan-lahan
e.       Membaca derajat kecerahan saat warna putih timbul, menyatakan dalam cm atau m

4.      Penentuan Kadar O2 Terlarut
a.       Mengukur secara langsung kandungan oksigen terlarut dengan DO-meter

5.      Penentuan Kadar CO2 Bebas Terlarut
a.       Memesukkan 100cc air cuplikan kedalam labu elenmeyer berukuran 250cc
b.      Meneteskan 10 tetes indikator fonoftalein
c.       Menitrasi larutan tersebut dengan larutan NaOH 1/44n hingga menjadi warna Merah Jambu-muda
d.      Mencatat banyak larutan NaOH yang dipakai. Melakukan titrasi secara duplo
e.       Menjumlah cc larutan NaOH yang terpakai x 10 yang manunjukkan kandungan CO2 bebas terlarut dalam satuan mg/L

6.      Pengukuran Salinitas Air
a.       Mengukur salinitas air menggunakan alat hand refraktor meter.
F.      HASIL PENGAMATAN
Tabel Nilai parameter Fisika-Kimia air di kolam depan Rektorat
Waktu pengamatan
lokasi
Parameter Fisika-Kimia
Suhu (0C)
pH
Kecerahan
(cm)
O2 terlarut (mg/L)
CO2 bebas (mg/L)
Salinitas air (ppt)
13.35
Kolam depan rektorat
35
8
38
0,1
6
-
14.00
36
-
-
-
-
0,2

G.    PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan, diperoleh suhu air di kolam depan rektorat yaitu 350C, dan untuk daerah tropis suhu ini masih dalam batas yang wajar dan tidak membahayakan kehidupan ikan, walaupun berada di atas suhu optimal untuk kehidupan ikan dan organisme makanannya (fitoplankton) yang berkisar pada suhu 25-300C. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Effendi (2003) bahwa kisaran suhu yang optimum untuk pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20-300C.
Air di kolam tersebut mempunyai pH 8 yang menunjukkan bahwa air bersifat basa dan hanya sedikit pencemaran yang ada. Selain itu, banyak ikan yang hidup di kolam karena pH air di kolam tersebut memungkinkan hidupnya ikan, dimana pH yang ideal untuk pertumbuhan ikan berkisar antara 6,50-8,50.
Nilai kecerahan air yang diukur menggunakan keeping secchi yaitu 38 cm atau 0,38 m yang berarti tingkat kekeruhannya tinggi. Hal ini disebabkan oleh dasar kolam yang berlumpur. Nilai kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan berkurangnya penetrasi cahaya ke dalam perairan sehingga dapat menghambat laju fotosintesis oleh perifiton dan fitoplankton.
Kadar oksigen terlarut yaitu 0,1 mg/L pada suhu 350C. Menurut NTAC (1968) dan Pescod (1973), suatu perairan yang tidak terdapat senyawa beracun memiliki kandungan oksigen terlarut minimum 2,0 mg/L, artinya air dikolam tersebut mengandung senyawa beracun. Salah satu faktor yang mempengaruhi kelarutan oksigen dalam air yaitu temperatur air. Apabila temperatur meningkat maka kelarutan oksigen akan menurun dan sebaliknya. Untuk kehidupan ikan secara umum, kadar oksigen terlarut di kolam tergolong sangat rendah, namun tidak begitu berpengaruh pada kehidupan ikan.
Untuk kadar CO2 bebas, NaOH yang terpakai sampai sample berwarna merah muda adalah 0,6 ml, sehingga dapat diketahui bahwa kadar CO2 bebas yaitu 6 mg/L. Karena kadar CO2 masih di bawah 25 mg/L, sehingga tidak membahayakan kehidupan ikan serta fitoplankton yang hidup di kolam tersebut.
Salinitas air diukur menggunakan SCT, diperoleh hasil 0,2 ppt dengan suhu 36,10C. Suhu berubah karena pengamatan dilakukan saat matahari tepat diatas perairan (pukul 14.00). Salinitas (kadar garam) di perairan digunakan oleh organisme yang hidup di perairan tersebut, khususnya ikan untuk mengatur keseimbangan cairan tubuh (proses osmoregulasi).

H.    KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan, dapat di ketahui bahwa suhu air di kolam yaitu 350C, pH 8, kecerahan 38 cm atau 0,38 m, oksigen terlarut 0,1 mg/L, CO2 bebas 6 mg/L dan salinitas 0,2 ppt pada suhu 36,10C. Angka tersebut umumnya masih mendukung untuk kehidupan ikan walaupun kadar oksigen (O2) terlarut rendah ( 0,1 mg/L).




DAFTAR PUSTAKA
Subroto,Gatot.2002.Kualitas air.Online.Terdapat di http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bt072025.pdf.diakses tanggal 20 mei 2011
Team teaching. 2011.Penuntun Praktikum Ekologi. Gorontalo. UNG
Wijaya,Habib Krisna.2009.Parameter Fisika-Kimia Perairan.Online.terdapat di http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12469/C09hkw_abstract.pdf?sequence=1.diakses tanggal 20 mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar