PRAKTIKUM
3
A. JUDUL
Pengukuran
Faktor Lingkungan Abiotik Terrestrial
B. TUJUAN
Menentukan
Faktor Abiotik Daratan (Terrestrial).
C. DASAR
TEORI
Abiotik atau
komponen tak hidup adalah komponen fisik
dan kimia
yang merupakan medium atau substrat
tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan
tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik
bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen
abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi
distribusi organisme, yaitu:
1.
Suhu. Proses biologi dipengaruhi
suhu. Mamalia dan unggas
membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2.
Air. Ketersediaan air memengaruhi
distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air
di gurun.
3.
Garam. Konsentrasi garam memengaruhi
kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis.
Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan
dengan kandungan garam tinggi.
4.
Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air,
fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun,
intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan
dan tumbuhan tertekan.
5.
Tanah dan batu.
Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi
mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber
makanannya di tanah
6.
Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca
dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional
dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim
dalam suatu daerah yang dihuni komunitas
tertentu.
Kondisi udara yang
berpengaruh atau berhubungan langsung dengan tumbuhan disebut iklim mikro,
walaupun hanya dalam daerah yang sangat kecil iklim mikro dapat menyebabkan
adanya fariasi dalam tipe komposisi tumbuhan. Komponen iklim mikro tersebut
antara lain: temperatur (suhu) udara, kelembaban udara dan intensitas
cahaya.
D. ALAT
DAN BAHAN
Alat :
1. Termometer
2. Hygrometer
3. Light
Meter / Lux Meter
4. Soil
Tester
5. Oven
6. Timbangan
Bahan :
1. Tanah
2. Air
3. Udara
4. Cahaya
E. CARA
KERJA
1. Temperatur
Udara
a. Mengukur
temperatur udara secara kuantitatif dalam satuan kalori atau kilogram kalori
b. Mengukur
temperatur udara secara kualitatif dengan thermometer dalam satuan derajat
celcius, fahrenheit, reamur dan Kelvin.
2. Kelembaban
Udara
a. Membasahi
salah satu thermometer dan membiarkan thermometer yang lain tetap kering
b. Memutar
sling selama 3 menit dengan posisi jauh dari tubuh
c. Membaca
nilai pada kedua thermometer sebagai suhu basah dan suhu kering
d. Memasukkan
nilai suhu kering dan selisih antara suhu basah dan suhu kering dalam tabel
sehingga didapat nilai kelembaban relatif.
3. Intensitas
Cahaya
a. Menekan
tombol on/off untuk menyalakan
b. Membiarkan
sensor cahaya tetap tertutup kemudian memilih range pengukuran melalui tombol
range switch
c. Menekan
tombol zero sehingga layar menunjukkan nilai 0, kemudian membuka penutup sensor
cahaya
d. Menghadapkan
sensor pada sumber cahaya yang akan diukur
e. Membaca
nilai intensitas cahaya yang tertera pada layar.
4. Kandungan
Air atau Kelembaban Tanah
a. Mengambil
lapisan tanah pada horizon A dengan kedalaman 10 cm menggunakan bor tanah
b. Mengambil
10 gr tanah dan memasukkan dalam wadah tertutup kemudian menimbangnya untuk
mengetahui berat segar
c. Memasukkan
cuplikan tanah kedalam oven yang bersuhu 1050C selama 24 jam atau
sampai beratnya konstan. Mendinginkan dan menimbang berat kering tanah.
d. Menghitung
persentase kandungan air tanah.
5. pH
Tanah
a. mencampurkan
10 gr tanah dan 20 ml akuades dalam beaker glass.
b. Melakukan
pengadukan dengan menggunakan gelas pengaduk terhadap campuran selama 15 menit
c. Mengukur
pH dengan memasukkan elektroda pH-meter kedalamnya.
6. Tekstur
Tanah
a. Mengambil
sejumlah cuplikan tanah
b. Memilin
diantara telunjuk dan ibu jari
c. Merasakan
dan menentukan jenis tanah tersebut sesuai kriteria.
F. HASIL
PENGAMATAN
1. Temperatur
Udara
Diukur menggunakan
thermometer, diperoleh suhu disekitar kolam yaitu 330C.
2. Kelembaban
Udara
Diukr dengan
hygrometer, di peroleh hasil 59% pada suhu 380C
3. Intensitas
Cahaya
Intensitas cahaya di sekitar
kolam yaitu 85 candela (cd)
4. Kandungan
Air atau Kelembaban Tanah
Berat segar tanah = 10 gr
Berat kering tanah = 6,6 gr
Berat segar tanah – Berat kering
tanah
Berat kering tanah
10 gr – 6,6 gr
6,6 gr
5. pH
tanah
pH tanah 6, diukur
menggunakan soil tester.
6. Tekstur
Tanah
Tekstur tanahnya yaitu
tanah pasir berlumpur.
G. PEMBAHASAN
Dari hasil
pengamatan di lapangan, di ketahui bahwa temperatur udara disekitar kolam yaitu
33 0C atau 91,4 0F. Tumbuhan umumnya tumbuh pada
kisaran suhu 1 – 40 0C, kebanyakan tumbuhan tumbuh
sangat baik antara 15 dan 30 0C. Sehingga dapat kita lihat
banyak jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar kolam karena suhu/temperatur
udaranya memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh. Tumbuhan yang ada di sekitar kolam
antara lain kangkung, pohon akasia serta beberapa jenis rumput.
Kelembaban udara
yang diperoleh dari hasil pengamatan yaitu 59% pada suhu 380C, alat
yang digunakan yaitu hygrometer. Kelembaban udara yaitu tingkat kebasahan udara
karena air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kelembaban udara dipengaruhi
oleh keadaan suhu udara di lokasi tersebut. Semakin tinggi suhu kering dan
basah diterima, maka kelembaban relatif yang dihasilkan pun semakin tinggi.
Intensitas cahaya yang diukur menggunakan Lux-meter diperoleh hasil 85
candela (cd). Besarnya cahaya yang tertangkap pada proses fotosintesis
menunjukkan biomassa. Dengan tingginya intensitas cahaya, maka tinggi pula suhu
di lingkungan tersebut, yang mengakibatkan respirasi tanaman meningkat.
Air yang terkandung dalam tanah disekitar kolam yaitu 51% yang berarti
kelembaban tanah tidak terlalu tinggi namun tidak juga rendah. Hal ini
disebabkan oleh tekstur tanah yang berupa tanah pasir berlumpur dengan ukuran
partikel 0,05 mm, sehingga kurang dapat mengikat air secara maksimum. Ciri dari
tanah pasir berlumpur yaitu sulit dibentuk, pada tangan memberi warna lemah,
masih dapat dirasakan adanya butiran kasar. Namun tumbuhan masih dapat tumbuh
karena pH tanah yang bersifat asam (pH 6). Dimana pada pada pH diatas 5,5
nitrogen (dalam bentuk nitrat) dan pospor akan tersedia bagi tanaman.
H. KESIMPULAN
Dari hasil
pengamatan, dapat disimpulkan bahwa tingginya intensitas cahaya dapat
mempengaruhi suhu di lingkungan tersebut serta meningkatnya respirasi tumbuhan,
yang mengakibatkan kelembaban udara juga meningkat. Selain itu, pada pH 6 yang
berarti tanah bersifat asam, tumbuhan masih dapat tumbuh karena pada pH diatas
5,5 nitrogen dan pospor tersedia untuk tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Soni,Ahmad,dkk.2009.Variasi Faktor Abiotik Lingkungan.Online.Tersedia di
http://onypoenya.files.wordpress.com/2010/01/laporan-revisi-kelompok-11.pdf.Diakses
tanggal 20 mei 2011
Team teaching.
2011.Penuntun Praktikum Ekologi. Gorontalo. UNG
Widiastuti,Libri,dkk.2004.Pengaruh Intensitas Cahaya.Online.Tersedia di
http://agrisci.ugm.ac.id/vol11_2/no4_krisan.pdf.diakses tanggal 21 mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar