Minggu, 20 Mei 2012

Pengukuran Faktor Lingkungan Abiotik Terrestrial


PRAKTIKUM 3
A.    JUDUL
       Pengukuran Faktor Lingkungan Abiotik Terrestrial
B.     TUJUAN
        Menentukan Faktor Abiotik Daratan (Terrestrial).
C.     DASAR TEORI
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:
1.    Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2.    Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3.    Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.
4.    Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
5.    Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah
6.    Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

Kondisi udara yang berpengaruh atau berhubungan langsung dengan tumbuhan disebut iklim mikro, walaupun hanya dalam daerah yang sangat kecil iklim mikro dapat menyebabkan adanya fariasi dalam tipe komposisi tumbuhan. Komponen iklim mikro tersebut antara lain: temperatur (suhu) udara, kelembaban udara dan intensitas cahaya.
D.    ALAT DAN BAHAN
Alat :
1.      Termometer
2.      Hygrometer
3.      Light Meter / Lux Meter
4.      Soil Tester
5.      Oven
6.      Timbangan
Bahan :
1.      Tanah
2.      Air
3.      Udara
4.      Cahaya

E.     CARA KERJA
1.    Temperatur Udara
a.       Mengukur temperatur udara secara kuantitatif dalam satuan kalori atau kilogram kalori
b.      Mengukur temperatur udara secara kualitatif dengan thermometer dalam satuan derajat celcius, fahrenheit, reamur dan Kelvin.

2.    Kelembaban Udara
a.       Membasahi salah satu thermometer dan membiarkan thermometer yang lain tetap kering
b.      Memutar sling selama 3 menit dengan posisi jauh dari tubuh
c.       Membaca nilai pada kedua thermometer sebagai suhu basah dan suhu kering
d.      Memasukkan nilai suhu kering dan selisih antara suhu basah dan suhu kering dalam tabel sehingga didapat nilai kelembaban relatif.

3.    Intensitas Cahaya
a.       Menekan tombol on/off untuk menyalakan
b.      Membiarkan sensor cahaya tetap tertutup kemudian memilih range pengukuran melalui tombol range switch
c.       Menekan tombol zero sehingga layar menunjukkan nilai 0, kemudian membuka penutup sensor cahaya
d.      Menghadapkan sensor pada sumber cahaya yang akan diukur
e.       Membaca nilai intensitas cahaya yang tertera pada layar.

4.    Kandungan Air atau Kelembaban Tanah
a.       Mengambil lapisan tanah pada horizon A dengan kedalaman 10 cm menggunakan bor tanah
b.      Mengambil 10 gr tanah dan memasukkan dalam wadah tertutup kemudian menimbangnya untuk mengetahui berat segar
c.       Memasukkan cuplikan tanah kedalam oven yang bersuhu 1050C selama 24 jam atau sampai beratnya konstan. Mendinginkan dan menimbang berat kering tanah.
d.      Menghitung persentase kandungan air tanah.

5.    pH Tanah
a.       mencampurkan 10 gr tanah dan 20 ml akuades dalam beaker glass.
b.      Melakukan pengadukan dengan menggunakan gelas pengaduk terhadap campuran selama 15 menit
c.       Mengukur pH dengan memasukkan elektroda pH-meter kedalamnya.


6.    Tekstur Tanah
a.       Mengambil sejumlah cuplikan tanah
b.      Memilin diantara telunjuk dan ibu jari
c.       Merasakan dan menentukan jenis tanah tersebut sesuai kriteria.

F.      HASIL PENGAMATAN
1.    Temperatur Udara
Diukur menggunakan thermometer, diperoleh suhu disekitar kolam yaitu 330C.
330C =  9/5 x 330C + 32 = 91,4 0F
2.    Kelembaban Udara
Diukr dengan hygrometer, di peroleh hasil 59% pada suhu 380C

3.    Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya di sekitar kolam yaitu 85 candela (cd)

4.    Kandungan Air atau Kelembaban Tanah
Berat segar tanah         = 10 gr
Berat kering tanah       = 6,6 gr

Berat segar tanah – Berat kering tanah
Kandungan air tanah =                                                               x 100%
Berat kering tanah

  10 gr – 6,6 gr
=                                   x 100% = 51,5%
       6,6 gr

5.    pH tanah
pH tanah 6, diukur menggunakan soil tester.

6.    Tekstur Tanah
Tekstur tanahnya yaitu tanah pasir berlumpur.

G.    PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan di lapangan, di ketahui bahwa temperatur udara disekitar kolam yaitu 33 0C atau 91,4 0F. Tumbuhan umumnya tumbuh pada kisaran suhu 1 – 40 0C, kebanyakan tumbuhan tumbuh sangat baik antara 15 dan 30 0C. Sehingga dapat kita lihat banyak jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar kolam karena suhu/temperatur udaranya memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh. Tumbuhan yang ada di sekitar kolam antara lain kangkung, pohon akasia serta beberapa jenis rumput.
Kelembaban udara yang diperoleh dari hasil pengamatan yaitu 59% pada suhu 380C, alat yang digunakan yaitu hygrometer. Kelembaban udara yaitu tingkat kebasahan udara karena air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kelembaban udara dipengaruhi oleh keadaan suhu udara di lokasi tersebut. Semakin tinggi suhu kering dan basah diterima, maka kelembaban relatif yang dihasilkan pun semakin tinggi.
Intensitas cahaya yang diukur menggunakan Lux-meter diperoleh hasil 85 candela (cd). Besarnya cahaya yang tertangkap pada proses fotosintesis menunjukkan biomassa. Dengan tingginya intensitas cahaya, maka tinggi pula suhu di lingkungan tersebut, yang mengakibatkan respirasi tanaman meningkat.
Air yang terkandung dalam tanah disekitar kolam yaitu 51% yang berarti kelembaban tanah tidak terlalu tinggi namun tidak juga rendah. Hal ini disebabkan oleh tekstur tanah yang berupa tanah pasir berlumpur dengan ukuran partikel 0,05 mm, sehingga kurang dapat mengikat air secara maksimum. Ciri dari tanah pasir berlumpur yaitu sulit dibentuk, pada tangan memberi warna lemah, masih dapat dirasakan adanya butiran kasar. Namun tumbuhan masih dapat tumbuh karena pH tanah yang bersifat asam (pH 6). Dimana pada pada pH diatas 5,5 nitrogen (dalam bentuk nitrat) dan pospor akan tersedia bagi tanaman.


H.    KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa tingginya intensitas cahaya dapat mempengaruhi suhu di lingkungan tersebut serta meningkatnya respirasi tumbuhan, yang mengakibatkan kelembaban udara juga meningkat. Selain itu, pada pH 6 yang berarti tanah bersifat asam, tumbuhan masih dapat tumbuh karena pada pH diatas 5,5 nitrogen dan pospor tersedia untuk tanaman.


DAFTAR PUSTAKA

Soni,Ahmad,dkk.2009.Variasi Faktor Abiotik Lingkungan.Online.Tersedia di http://onypoenya.files.wordpress.com/2010/01/laporan-revisi-kelompok-11.pdf.Diakses tanggal 20 mei 2011
Team teaching. 2011.Penuntun Praktikum Ekologi. Gorontalo. UNG
Widiastuti,Libri,dkk.2004.Pengaruh Intensitas Cahaya.Online.Tersedia di http://agrisci.ugm.ac.id/vol11_2/no4_krisan.pdf.diakses tanggal 21 mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar